Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Mei 2011

Kristal Hati


“Ada lagi, Bu Nita?”
Seorang perawat wanita menawarkan bantuan saat mengantarkan beberapa dokumen dari rekan-rekanku yang ada di rumah sakit ini. Ia berdiri dekat ujung tempat tidurku, dengan dua lapis bibirnya siap memberikan kesanggupan sebagai kepiawaiannya dalam profesionalitas.
“Tidak, terima kasih banyak”, timpalku seraya mengembangkan senyum.
Si perawat turut tersenyum, “Bila begitu, saya pamit”, ucapnya, lalu membungkukkan badan.
Aku mengangguk, sesaat kemudian, ia telah membelakangiku dan melangkah ke arah pintu rawat inap.
Kuamati tumpukan dokumen di meja kecil di samping kananku. Berkas penelitian. Dan membaca hasil telaah teman-temanku merupakan hiburan menyenangkan ketika harus terbaring lemah seperti sekarang, tanpa aktivitas.
Namun, entah apa. Saat ini, gairah membacaku menurun. Lantas, kualihkan tatapan pada ranting-ranting gundul sakura yang memenuhi seluruh ruang jendela kaca di sampingku. Mataku tak lepas. Terpaku di sana. Tertarik kuat laksana kutub magnet positif bertemu dengan lawannya. Menempel rapat bak perangko pada pesona putih-putih di atasnya. Salju. Adalah hal biasa di musim dingin seperti sekarang, bagi orang-orang Jepang yang setiap tahunnya selalu menjumpainya, bahkan saling menyapa selama 3 bulan, kurang lebih.
Tidak bagiku. Salju mempunyai nilai lain. Tepatnya, sejak 13 tahun yang lalu. Saat ayahku melanjutkan program doktornya di Universitas Hokkaido atau Hokudai. Kami sekeluarga, aku, ayah, dan ibu memboyong diri, lebih pas disebut bedol rumah dari Surabaya―Indonesia ke Sapporo―Jepang. Walau sebenarnya istilah yang lebih sepadan untuk eksodus ini bukanlah rumah melainkan badan-badan 3 dimensi kami, beberapa lembar baju, dan kitab-kitab terpenting milik ayah.
Namun, istilah bedol rumah benarlah terjadi. Yaitu, setelah ayah menyelesaikan research-nya dengan hasil gilang-gemilang―sebutan yang dipakai ibu saat itu untuk pencapaian hasil studi ayah, ayah ditawari pekerjaan sebagai peneliti sekaligus pengajar di Hokudai. Selepas segala urusan yang kait mengkait dengan pekerjaan ayah di tanah air mendukung pinangan pihak Hokudai, dapat dipastikan aku akan tinggal di Negeri Para Samurai ini lebih lama lagi atau bahkan kami akan menetap di sini selamanya.
Saat kali pertama menapakkan kaki di Negeri Sakura ini, aku disambut pelukan sang musim dingin yang suhunya mencapai -10˚C dan langsung membekukan darah ke-Indonesiaanku. Aku dan ibu, yang belum pernah berkenalan dengan cuaca negeri 4 musim, serta merta drop selama 1 minggu, kecuali ayah yang bolak-balik ke negara ini. Bukan apa, melainkan tubuhku hendak menyesuaikan dengan kondisi baru. Tak seperti bayanganku, di negeri salju ini, aku hampir belum pernah menyentuhnya karena kedua telapak tanganku selalu berselimutkan sarung. Dulu, saat di Indonesia, aku berhasrat besar menjamahnya. Menyenangkan, pikirku.
Penyesuaianku tak hanya dengan cuaca baru, tapi juga dengan sekolah baru. Tatkala hendak menggabungkan diri di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jepang, aku hanya berdiri di depan gerbang masuk sekolah setelah ayah meninggalkanku karena harus menemui promotornya―kata ayah saat itu. Mengamati bangunan besar di hadapanku. Hampir seperempat jam aku berdiri, dari arah samping kiriku terdengar suara ramah seseorang.
“Moshi moshi[1]”
Sontak, sapaannya memeranjatkanku, lalu diikuti pengalihan pandanganku dari bangunan bertingkat 4 di depanku ke sumber suara. Di sana, berdiri sesosok laki-laki tinggi―aku tepat sepundaknya―dengan kulit putih, wajah oval, sorot mata dalam, rambut lurus berbelah pinggir, dan tentu saja berseragam sama dengan seragam-baruku. Sekonyong-konyong, aku membungkuk sebagai balasan atas tegurannya. Aku belum berani meluncurkan kata-kata, mengingat les super cepat bahasa Jepang beberapa waktu lalu. Dan dia hanya merekahkan senyum, menyambutku.
“Kenapa tak masuk?”, tanyanya dalam bahasa Jepang.
“Aku...aku”, suaraku gagap, sangat kentara bahasa Jepangku belepotan.                          
“Anak baru ya?”, dia melontarkan pertanyaan lagi. Aku rada berpikir―tidak penting sekali―apa dia tak tahu kalau aku bukan satu ras dengannya. Kemudian, aku mengangguk sebagai jawaban atas rasa penasarannya.
“Kelas berapa?”
“Satu C”, jawabku singkat.
“Oh”, mulutnya membentuk lingkaran kecil hingga ada kepulan uap dari hembusan napasnya, “Aku juga kelas IC”, ia menjulurkan tangan kirinya, kidal, bisik hatiku, “Namaku Yamada Kato”
Aku merubah posisi tanganku yang sedari tadi menempel di tubuhku bagian samping, terjulur padanya, “Nita”, ucapku saat telapak tanganku dan telapak tangannya berjabatan erat yang terlapisi sarung tangan tebalku.
Sejak saat itu, aku dan Kato menjadi sahabat. Di mana ada Kato di situ ada Nita. Ternyata, di manapun berada, karakter manusia tak berubah. Di Indonesia, hampir seluruh sahabat terdekatku adalah laki-laki, dan di sini, di negeri orang pun tak berbeda walau diriku tak tomboy-tomboy amat. Mungkin itulah yang tergariskan oleh Allah akan satu sifat kemanusiaanku, lebih klop berbaur dengan laki-laki daripada sesama jenis. Enak saja. Mereka tak terlalu banyak merumpi seperti gadis-gadis yang menjadi hal ter-ogah-ku. Namun, sifat ini banyak berubah sejak aku mengenal Islam lebih dekat―saat aku di bangku kuliah, akhirnya aku tahu kalau pergaulan laki-laki dan perempuan harus dibatasi.
***
Kurasakan, sesuatu mengalir hangat di punggung tanganku. Perlahan, kucoba menggerakkan tangan. Dengan susah payah―tulang-tulang jariku terasa agak nyeri dan kaku, akhirnya ujung jemariku menyentuh permukaan yang lembut, lentur, dan kuyup. Penasaran, kukerjap-kerjapkan kelopak mataku. Setelah itu, samar, aku melihat bayangan wajah ibuku menempel di tanganku.
“Ibu...!”, telingaku menangkap suaraku yang lirih nyaris tak terdengar.
“Sayang....”, suara ibuku serak seperti terdapat banyak dahak menjerat pita suaranya, “Apa yang sakit, Nita?”
Pertanyaan ibu terdengar penuh kekhawatiran. Namun, aku memilih memperjelas pandanganku daripada menanggapi kerisauannya. Dan akhirnya, kudapati wajahnya terkuas rata dengan cat keresahan.
“Apa sakitnya berkurang?”
 Ibu melempar pertanyaan lagi yang menyadarkanku atas rasa nyeri yang beberapa saat lalu menyerang di sekujur kerangka tulangku. Tubuhku laksana dimutilasi tanpa obat bius. Dirancak-rancak. Nyeri sekali. Dan masih lekat bunyi ‘kretek’ saat aku menggeliat, yang menambah kenyerianku. Setelah itu, aku tak ingat apa-apa.
***
Ibu tetap memegang tanganku, “Ibu mohon, Nita!”, suara ibu hampir tertelan, “Lakukanlah kemo!?”
“Tidak, Ibu!”, bisikku seraya menggeleng ringan.
Kulihat ibu sesenggukan, “Ibu sudah tak tahan, Sayang!”, kepala ibu bergerak naik turun, terisak, “Setiap hari, selalu ada bagian tulangmu yang patah. Hari ini tulang rusukmu, besok apa lagi?”, ibu menyeka cucuran air matanya dan memeras hidung, “Kau juga harus melakukan cuci darah lebih sering lagi! Ibu mohon, luruhkan prinsipmu! Bukankah ini ikhtiar untuk kesembuhanmu?”
Dadaku sesak, melihat ibuku yang tampak sangat menderita, “Ibu sangat mengenalku”, aku menegaskan suara di tengah kelirihannya, “Tidak ada tawaran untuk suatu prinsip hidup!”
“Apa yang kamu katakan!?”, di tengah tangisnya, amarah ibu meledak, ditandai suaranya meninggi, “Selama ini, kau meneliti kanker untuk mencari penawarnya dan meminta para penderitanya mengkonsumsi hasil penemuanmu. Tapi, sekarang kau mengingkarinya!”, ibu tampak menahan napas, “Bukankah itu juga membuat Allah murka?!”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, ibu meletakkan tanganku perlahan walau emosi menguasainya. Lalu, ibu berlari dengan terhuyung ke luar kamar, tempat aku dirawat.
Hatiku berdesir. Pilu. Aku tahu. Ibu sangat menyayangiku dan tak ingin kehilanganku. Anak satu-satunya. Namun, maaf, aku tak ada pilihan. Ini juga salah satu usahaku meraih cinta-Nya.
Semenjak aku mengetahui satu hadis Rasululloh tentang bersabar dalam sakit― termasuk bersabar dalam tidak melakukan pengobatan, aku tak pernah mengkonsumsi obat-obatan lagi. Selain itu, juga karena oleh efek samping obat terhadap sel-sel tubuh yang sehat. Dan bermula dari itu, aku hidup teratur dan serba sehat dalam segala hal, mulai dari makan, tidur, olah raga, kerja, dan sebagainya. Aku tak pernah sakit hingga kanker tulang ini menggerogotiku, kemudian menyusul mieloma multipel, yang semakin mengerati fungsi organ tubuhku mulai dari ginjal―kedua ginjalku tak bekerja. Lalu, paru-paruku mulai terdisfungsi hingga aku harus merasakan kenikmatan terbesar dapat menghirup udara ketika tubuhku mengejang tak tersuplai oksigen, dan tentu saja terjadi pengeroposan tulang-tulangku yang merapuhkannya.
Apakah aku salah menafsirinya, tapi hadisnya shahih. Kala menganalisis probabilitas kebodohanku, kurasakan ada yang mengganjal di sudut mataku. Lantas, kukerjabkan tapuknya. Sontak, sesuatu yang hangat mengalir melewati pelipisku.
Apakah aku termasuk dalam golongan orang-orang yang mempercepat datangnya ajal? Juga orang-orang berputus harapan? Serta munafik? Menyadari keburukan-keburukan yang kulakukan, kedua sudut mataku terus meluapkan air, bahkan semakin deras. Meratapi kristal hatiku. Keteguhanku, yang membeku selama ini. Rabbi, aku memohon ampun atas segala kebodohanku. Sesungguhnya taubatku adalah milik-Mu.
***
Tatkala seorang perawat mengganti kantong infusku, aku memintanya untuk membuka jendela kaca di sampingku. Hari ini, aku ingin sekali dipeluk sang musim dingin seperti saat kali pertama menginjak tanah Jepang. Dan sana, terdapat taman rumah sakit yang indah, namun segalanya berwarna putih oleh tumpukan salju.
Setelah bagian bawah daun jendela terbuka, hawa dingin menerobos masuk, membelai kulitku, merembes ke dalam, dan seolah mengompres segenap tulangku yang dibalut nyeri. Aku menyeringai, menepis sensasi aneh yang menggigit.
Si perawat yang masih memperhatikanku tertegun, “Apakah nyerinya bertambah, Bu?”, tanyanya yang mungkin melihat ringisanku, “Apakah disuntikkan penghilang sakit?”
“Tak perlu!”
Senyeri apapun yang kurasakan, aku akan berusaha untuk bertahan. Tak pernah meminta analgesik untuk meredakannya. Walau akhirnya, ketika diriku pingsan, tak mampu membentengi raga sendiri untuk tetap melakukan kontak dengan orang-orang sekitar, dokter atau perawat kemungkinan besar menusukkan jarumnya di kantong infusku dan mencampurkan beberapa dosis analgesik terbaik ke dalamnya, atas permintaan ibu.
Si perawat membungkuk, menyadari tak ada hal lain yang kubutuhkan. Pamit diri. Selepasnya pergi, telingaku menangkap suara, sayup-sayup, dari arah bawah jendela.
“Ibu, ayo pergi...!”, terdengar suara anak kecil merengek manja.
“Pergi kemana? Adek kan masih sakit!”, sahut sang ibu dengan bijaksana.
“Taman Odori―”
Bertepatan kata terakhir terputus, selubung panas mendadak menyelimuti kedua mataku, hingga merangsang kelenjarnya mengalirkan simpanannya untuk mendinginkan.
Pelan, kukatupkan tapuk mata, membiarkan lelehan hangat keluar dari sudut-sudutnya, serta merasakan kelegaan dan kenyamanan, sesaat. Kala mengembangkannya kembali, seketika, kedua bola mataku melompat, terlepas dari rongganya. Saat ini, aku berdiri, hal yang satu minggu ini mustahil kulakukan karena kedua tungkaiku tak mampu menegak, apalagi menopang berat badanku. Dan puncak ketercenunganku, aku berada di tengah kerumunan ribuan orang yang memadati suatu area, yang sangat kuingat detailnya, yaitu Taman Odori. Sekarang, di sekelilingku, terdapat puluhan patung atau istana, yang terbuat dari es, berdiri dengan gagah dan megah.
Tak ingin tetap bergeming dan tertepa hawa dingin, aku mulai melangkah, merangsang kelenjar keringat berproduksi walau itu tak mungkin terjadi. Menyisip di antara tumpukan manusia. Lama. Aku tak ke sini. Semenjak kejadian itu. Tiga belas tahun yang lewat. Saat aku menunggu Kato yang berjanji menemuiku untuk melihat hamparan hiasan salju dari puncak Sapporo TV Tower, hingga aku membeku, terpatung di satu kaki-kukuhnya. Disertai harapan bahwa Kato akan datang dengan senyum merekah, lalu mengajakku mengelilingi Taman Odori dari ketinggian menara yang terkenal menakjubkan, dan aku berencana mengakhirinya dengan ungkapan rasaku yang terpendam. Namun, rasa itu mengkristal oleh dinginnya butir-butir salju yang menghujaniku, hingga kini, tak pernah tercairkan, karena itu hanya untuk Kato seorang, yang tak pernah kutemui sejak saat itu. Karena ia telah―.
“Nita-chan!”
Aku terperanjat, mendengar panggilan seseorang dari arah belakang. Sontak, memburaikan kekusutan kenanganku, dengan suara yang terekam baik. Sangat akrab, di hatiku. Serta merta, aku membalik badan. Di sana, dua meter di depanku, seorang jejaka tinggi besar, dengan bentuk muka lonjong, rambut lurus berbelah pinggir, merekahkan senyum. “Kato...!”, bisik hatiku. Nyaris tak berjeda, kurasakan area sekitar mataku memanas dan bendungannya jebol, isinya tumpah ruah. Melihat sosok Kato yang bagiku tak mungkin lagi kutemui. Namun kini, ia berdiri tak jauh dariku, penuh kegagahan.
“Maaf, lama menunggu”, Kato menggerakkan tungkainya, melangkah ke arahku, “Ayo...!”, ia menggandeng tanganku.
Aku menurut, tak paham, lalu kuajukan satu tanya, “Kemana?”, di tengah keterbengonganku
“Kesana!”, telunjuk Kato mengarah pada puncak menara Sapporo TV Tower. Kemudian, Kato mengajakku terbang ke atas.
“Kato, kenapa kita tak mengantri?”, kuarahkan pandangan pada deretan panjang manusia tengah mengantri tiket naik ke menara.
“Kenapa harus mengantri?”, Kato balik bertanya lalu menarik dua sudut bibirnya, “Kita kan bisa terbang!”
Benar, tubuhku terasa sangat ringan. Seringan kapas. Bersama Kato, melayang-layang laksana burung sejoli, lantas hinggap di pucuk menara. Mengamati Taman Odori dari atas, merupakan pemandangan spektakuler, mengagumi keindahan Sapporo Yuki-Matsuri di Taman Odori yang membentang sepanjang 1,5 kilometer.
“Maukah pergi bersamaku?”, suara lembut Kato memecah ketakjubanku pada keelokan Yuki-Matsuri.
Aku berusaha mencari gambaran keseriusannya, dengan menengadah, memakukan pandangan pada sepasang bola matanya. Dia bersungguh-sungguh, tak main-main.“Ke mana?”
“Ke duniaku”, jawab Kato singkat seraya menatapku lekat, menunggu jawaban. Lantas, kuanggukkan kepala.
Mengetahui kesediaanku, Kato mendekapku. Hangat. Alirannya menyusup jauh ke dalam. Ke ulu hati. Dan mencairkan gumpalan beku yang selama 13 tahun ini mengeram di sana. Tak pernah meleleh, meskipun terdidihkan di puncak musim panas. Kristal cintaku. Dan hanya Kato yang mampu membuatnya mencapai titik leleh, kala ia menjemputku, menuju dunia ruh yang abadi. Seperti saat ini.

**Selesai**


[1] Halo

Minggu, 06 Februari 2011

Asa Abu Abu IV


“Mas, bila aku mati duluan, Mas nikah lagi gak?”

Aku mengajukan pertanyaan yang membuat mas Rizal terperangah. Tergambar jelas dari bola matanya yang melotot seketika. Meskipun melotot, tetap saja tidak bisa membuat matanya yang sipit melebar.

“Sayang, apa tidak ada bahan pembicaraan lain?”                                

Tampaknya, mas Rizal tidak suka dengan pertanyaanku. Aku juga aneh-aneh saja, tiba-tiba bertanya tentang mati.

“Ehm, perempuan yang dulu pernah minta Mas nikahi, udah nikah belum?”

“Tu, aneh lagi pertanyaannya! Gak ada yang lebih bermutu?”

“Ya udah. Aku tidur aja!”

Kusandarkan kepala ke kursi pesawat yang membawaku terbang dari Jakarta. Kuperhatikan arak-arakan awan putih dari jendela. “Gluduk, gluduk.” Tiba-tiba, pesawat ini bergoncang ringan, seperti mobil yang melewati jalanan berbatu. Pasti dia sedang melewati beberapa gumpalan awan. Aku terus memperhatikan awan putih yang tampak bersinar, tertepa cahaya matahari. Cantik. Andai bisa kusentuh. Kubayangkan diriku terbang dari awan satu ke awan yang lain. Ehm, seperti peri di film-film.

“Crek” Tiba-tiba, ada yang melepas sabuk pengamanku. Membuyarkan anganku seketika.

“Sayang, sandarkan aja kepalamu di sini!” Tangan-kekar mas Rizal meraih pundak kananku, dan menyentuh kepalaku lembut. Kepalaku tak lagi bersandar di kursi pesawat. Tetapi, berpindah ke bahu-kokoh mas Rizal.

“Ngambek ya?”

“Nggak”

“Ehm, dia bernama Raihana Rahmawati, biasa di panggil Hana.” Tanpa kuminta, mas Rizal bercerita tentang perempuan. Pasti dia. Perempuan yang pernah menjadi pacar mas Rizal. Aku menunggu kelanjutan cerita mas Rizal.

“Kami berkenalan di perpustakaan.”

“Mas langsung suka?”

“Nggak. Kami berteman dulu.”

“Iya. Kata Dea, Mas gak bisa langsung suka ama perempuan ya?”

“Ya. Aku mesti banyak mengenalnya.”

“Mas pasti gak cinta ama dia!”

“Kenapa bilang begitu?”

“Karena Mas gak berani menikahinya!”

“Karena aku belum siap!”

“Tapi, Mas dah kerja kan?”

“Belum cukup materi!”

“Mau nunggu kaya? Sampai kapan? Kalau seperti itu prinsipnya, pasti gak ada orang yang berani nikah! Bukankah Allah berjanji akan membuat kaya orang miskin yang menikah?”

“Memang. Tapi mas takut!”

“Of course! Bila Mas berani, saat ini, pasti ku tak di samping Mas!” Kulingkarkan tanganku ke pinggang mas Rizal.

“Dia belum menikah?”, sambungku.

“Belum!”

“Mas masih cinta?”

Mas Rizal diam.

“Kenapa memilihku? Mas kan lebih mengenalnya, dibandingkan aku?”

“Karena Anisa Ramadhani berbeda dengan Raihana Rahmawati! Anisa lebih ....” Sebelum mas Rizal melanjutkan kata-katanya, jari telunjukku lebih dahulu mengunci bibirnya.

“Mas, bila Anisa mati duluan, Mas boleh menikahi Raihana!”

“Hus! Gak baik bilang begitu! Pamali!”

“Mas kan masih cinta ama dia! Gak masalah kan?”

“Tidak ada yang bisa menggantikanmu!”

“Tapi, bila aku gak ada, Mas nanti kesepian! Dan katanya, laki-laki tu lebih sulit menahan nafsu lho!”

“Siapa bilang?”

“Pas S2 dulu, ada bapak-bapak yang bilang, kalau ngliat anjing jongkok aja, pikirannya dah macam-macam!”

“Tidak semua laki-laki seperti itu!”

“Mas?”

“Iya?

“Mas mencintaiku?” Kuajukan pertanyaan yang selama ini selalu kusimpan. Aku yakin, laki-laki ini sangat mencintaiku. Aku tahu dari cara ia memperlakukanku. Tetapi, entah, ia tidak pernah mengungkapkannya.

“Sangat. I love you so much!” Mas Rizal memegang pundakku dan mengecup kepalaku lembut. Tiba-tiba, rasa kantuk menyerang pelupuk mataku.

“Mas, aku ngantuk, bila nanti dah sampai Juanda, dibangunkan ya!”

“Yap!” Kudengar suara mas Rizal sayup-sayup.

**

“Untuk hari ini, materi kuliah saya cukupkan sekian! Apabila ada pertanyaan, saya persilakan!” Kutebarkan pandangan kepada mahasiswa-mahasiswa yang selama 100 menit telah seksama mengikuti materi yang kusampaikan.

“Saya Bu!”

“Iya, silakan!” Kuperhatikan salah satu mahasiswa yang berada di pojok ruangan. Hhh, pandanganku mulai kabur. Kepalaku mulai berat. Apa minus mataku bertambah?

“Maaf Bu. Saya kurang jelas mengenai ....” Belum selesai kudengarkan pertanyaannya, badanku terhuyung. Sekuat tenaga, aku berusaha tetap berdiri tegak.

“Ibuuu...” Samar-samar aku mendengar teriakan, setelah itu, semua menjadi gelap.

**

“Anisa.” Ada suara memanggil namaku.

“Hhh”

“Syukurlah, alhamdulillah” Aku melihat mbak Candra duduk di sampingku. Dia bernafas lega

“Mbak, ini di mana?”

“Di Rumah sakit, tiba-tiba kamu pingsan. Karena khawatir, kami membawamu ke sini!”

“Sama seperti dulu!”

“Apanya?”

“Ya kejadian ini. Semua sama. Pertama, aku pingsan. Kemudian, aku tersadar dengan suara yang memanggilku. Semoga, penyebabnya tidak seperti dulu!”

“Emang dulu kenapa?”

“Dulu aku....” Aku tidak melanjutkan perkatakan. Ada seorang dokter perempuan masuk diikuti seorang perawat.

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

“Bagaimana keadaannya Bu?”, tanya dokter sambil memegang pergelangan tanganku. Memeriksa denyut nadi.

“Alhamdulillah, kepala saya tidak seberat tadi. Ada apa dengan saya, Dok?”

“Selamat, Anda hamil!” Dokter itu mengulurkan tangannya dan kusambut hangat. Subhanallah, aku diizinkan hamil lagi. Sudah hampir tujuh bulan sejak keguguran dulu.

“Apa kondisi kandungan saya lemah, Dok?”

“Ibu pernah hamil sebelumnya?”

“Iya. Dan saya harus bed rest!”

“Demi keselamatan kandungan Ibu, saya menganjurkan, Ibu harus melakukan bed rest lagi!”

Laa haula walaa kuwwata illaa billaah. Ya Rabb, ini lah ketetapan-Mu. Meski aku menginginkan bisa tetap beraktivitas selama hamil, ternyata Engkau mempunyai keinginan yang berbeda. Insya Allah, ini yang terbaik untukku.

“Terima kasih, Dok!”

“Sama-sama. Maaf, saya akan ke pasien lain! Ibu, dijaga baik-baik ya kandungannya!”, pesan dokter itu. Dan aku hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian dokter itu melangkah ke luar.

“Anisa, selamat ya! Dan yang sabar!”

“Terima kasih Mbak. Dibantu doa ya!”

“Iya” Mbak Candra memegang tanganku erat.

Setelah semalam menginap di rumah sakit, paginya, aku pulang. Setiba di rumah, aku menyiapkan surat-surat yang diperlukan untuk pengajuan cuti kerja maupun cuti kuliah S3. Serta menyelesaikan semua amanah kantor yang kupegang.

Aku harus mengabari mas Rizal. Dia pasti terkejut mendengar kabar kehamilanku. Segera kuraih HP dan men-dial nama “Masku” di phone book. 

“Assalamu’alaikum. Ada apa?”

“Wa’alaikumsalam. Mas sibuk?”

“Nggak. Baru aja shalat Dhuhur!”

“Mas, aku ke Denpasar ya?”

“Lho? Kan masih hari efektif!”

“Aku hamil!”

“Alhamdulillah. Tapi kenapa harus ke sini? Cuti hamil kan belakangan!”

“Aku harus bed rest!”

“Hhh....” Kudengar mas Rizal mendesah.

“Mas, maaf ya, selalu merepotkan Mas!” Allah, sabarkanlah diriku. Berilah mereka, orang-orang yang telah banyak membantuku dengan balasan yang lebih baik. Terutama suamiku. Cintailah dia melebihi ia mencintaiku.

“Apa Mas menyesal, menikahiku yang lemah ini?”, tanyaku. Mulai ada yang mengalir di pipiku.

“Sayang, engkau adalah anugerah terindah. Mana mungkin aku menyesal!

“Hiks....”

“Lho, kok nangis! Maaf ya kalau ada yang menyinggung!”

“Mas terlalu baik. Dengan keadaanku, pasti membuat Mas susah!”

“Itulah, kenapa kita ditemukan. Untuk saling melengkapi! Okay?”

“Iya.”

“Nah, dijaga ya anak kita! Besok, kebetulan off, kamu kujemput!”

“Iya”

**

Di kehamilan yang kedua ini, aku jauh lebih berhati-hati dalam melakukan setiap aktivitas. Bik Nipah maupun mas Rizal, lebih ketat mengawasi. Agak mengekang, tapi itu adalah tanda cinta mereka. Mereka tidak menginginkan kejadian yang lalu terulang lagi. Manusia memang tidak tahu apa yang akan terjadi. Tetapi, diharuskan untuk selalu berusaha. Karena Ia, Sang Penguasa Hidup, tidak akan merubah nasib seseorang sebelum ia berusaha untuk merubah nasibnya sendiri.

Kandunganku memasuki usia delapan bulan. Mulai terasa berat. Tendangan-tendangan jabang bayi di perutku, semakin hari semakin kuat. Apalagi bila ada papanya mengajak bermain, wuih seru, dia laksana menendang bola ke segala penjuru. Tetapi, bila ia kuperdengarkan suara murottal Al Qur’an, ia akan hikmat mendengarkan. Dia berhenti bergerak-gerak, dan akan menendang lagi bila alunan murottal berhenti. Subhanallah, anak yang cerdas. Tiba-tiba, kerinduan untuk menimangnya menyergap hatiku. Satu bulan, Insya Allah, aku akan segera menimangnya. Buah cintaku dengan mas Rizal. Ya Rabb, jadikanlah dia anak yang shalih. Ku belai perutku lembut, ia menendang halus.

“Tok tok tok!” Terdengar pintu diketuk.

“Ibu, permisi!” Kudengar suara bik Nipah meminta izin masuk.

“Iya Bik, masuk saja!”

Bik Nipah membuka pintu kamar perlahan, kemudian ia masuk dan berjalan menuju almari. Memasukkan dan menata baju yang telah disetrika dengan rapi.

“Bik, maukah Bik Nipah menemani sebentar?”, kuajukan pertanyaan ke bik Nipah yang hendak melangkah ke luar.

“Iya, ada yang bisa saya bantu Bu?”

“Sini Bik!” Kutepuk pembaringan, meminta bik Nipah duduk di dekatku.

“Iya Bu?”

“Bik Nipah dulu merawat bapak semasa kecil ya?”

“Iya, kenapa Bu?”

“Tidak apa. Ehm, saya minta tolong ya Bik?”

“Silakan Bu!”

“Bik, bila saya tidak ada, Bik Nipah mau ya merawat anak saya?”, kuajukan pertanyaan ke bik Nipah. Aku yakin, perempuan yang ada di depanku ini cukup baik agamanya. Modal utama dalam mendidik anak-anakku nanti.

“Ibu bilang apa? Apa Ibu mau meninggalkan bayinya di sini? Tidak dibawa ke Surabaya?”, tanya bik Nipah heran.

“Anak, pasti kubawa ke mana saya pergi Bik. Mau ya, bila Bik Nipah saya ajak ke Surabaya!”

“Iya Bu!”

“Terima kasih”

“Sama-sama Bu, saya ke dapur ya Bu?”

“Silakan!” Bik Nipah melangkah keluar. Aku percaya pada perempuan itu. Ia pasti bisa membimbing anakku di tengah kesibukan papanya.

**

“Heuh’, perutku mulas. Kulirik jam dinding, menunjukkan pukul satu pagi.

“Mas, bangun Mas!” Kugoyang-goyang tubuh mas Rizal.

“Hhh, ada apa? Belum waktu tahajjud kan?”

“Mas, perutku mulas sekali. Mungkin anak kita mau lahir!”

“Hah?” Mas Rizal langsung terduduk.

“Benarkah?”, lanjut mas Rizal sambil memegang perutku. Perutku terasa semakin kencang. Mas Rizal langsung beranjak dari tempat tidur dan berganti baju. Ia memanggil-manggil bik Nipah. Meminta bik Nipah menyiapkan segala keperluan melahirkan. Setelah semua perlengkapan siap, aku dibimbing bik Nipah menuju mobil. Segera kami meluncur ke rumah bersalin Islam yang jauh-jauh hari kami pilih.

“Mas, jangan kencang-kencang!”, ucapku sambil meringis. Frekuensi kontraksi perutku semakin sering. Melihatku yang menahan sakit, bik Nipah memegang tanganku erat dan mas Rizal seperti tidak mendengar ucapanku. Ia tidak mengurangi kecepatan mobil. Rabb, selamatkanlah kami.

Setelah sampai di Rumah Sakit, aku segera dilarikan menuju ruang bersalin. Salah satu perawat mengganti pakaianku.

Di jam ke sebelas aku berada dalam ruang bersalin, seorang dokter perempuan masuk ke ruangan kemudian memeriksa jalan lahir.

“Masya Allah, Ibu, sudah bukaan sembilan!”, ucap dokter.

“Dok, bolehkah suami saya menemani?”, pintaku.

“Boleh!”, jawab dokter.

“Sus, tolong panggil suami ibu ini!”, pinta dokter pada perawat.

Tak lama, mas Rizal sudah di sampingku. Ia memegang tangan kananku. Kurasakan otot-otot punggung dan perut mengencang. Masya Allah, Rabb, kuatkanlah aku, ulurkan pertolongan-Mu. Gigiku gemeretak menahan sakit. Kupegang tangan mas Rizal kuat-kuat. Rabb, selamatkanlah anakku. Aku rela mati bila itu harus kulakukan. Bunda. Tiba-tiba aku ingat bunda. Sedang apakah bunda saat ini? Bunda, maafkanlah segala kenakalanku, kirimkanlah doamu untuk keselamatan anakmu ini!

“Ibu,  ikuti aba-aba saya!”

Mendengar perkataan dokter, aku mengangguk ringan.

“Yap, dorong Bu!”

“Heuugh...!” Ada sesuatu yang mengganjal di antara dua pahaku.

“Ya, dorong lagi Bu!”

“Heuugh...!”

“Lagi Bu!”

“Heuugh ...!”

“Ueek...ueek...ueek...!” Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Anakku lahir. “Hoehh”, tubuhku melemah, tulang-tulangku serasa dilolosi bersamaan dengan kelahiran anakku.

“Alhamdulillah, Sayang, anak kita lahir!”, mas Rizal mencium keningku.

“Dok, bahaya, ibu ini mengalami pendarahan hebat!”, ujar salah satu perawat.

“Dok, ada apa dengan istri saya?”, tanya mas Rizal khawatir.

“Suster, cepat ambil beberapa unit darah! AB!”, perintah dokter. Seorang perawat segera berlari ke luar.

“Bapak sebaiknya keluar dulu!”, pinta dokter pada mas Rizal. Seorang perawat mendorong tubuh mas Rizal ke luar ruangan.

Ada apa denganku? Aku melihat tubuhku terbaring tak berdaya. Seorang dokter dan beberapa perawat sibuk di sekeliling tubuhku.

“Assalamu’alaikum!” Ada yang mengucap salam dari arah belakang.

“Wa’alaikumsalam!” Kubalikkan tubuh. Aku melihat dua laki-laki tampan. Memakai  baju putih bersih. Aku mencium aroma wangi, semerbak di sekeliling mereka.

“Kalian siapa?”, tanyaku.

“Kami adalah utusan Tuhanmu.”

“Ada perlu denganku?”

“Iya. Kami akan membawamu pergi!”

“Kemana?”

“Ke suatu tempat yang indah dan selalu kamu rindukan!”

Tempat yang indah dan selalu kurindukan? “Apa?”

“Menuju Tuhanmu! Kamu bersedia?”

Tuhanku? Hatiku bergetar hebat. Hingga tubuhku ikut bergetar tidak kalah hebat. Tuhanku. Allah....“Iya”

Salah satu dari mereka menggandeng tanganku. Dan kami terbang menjauhi tubuhku yang terbaring lemah. Sayup-sayup, kudengar adzan Dhuhur berkumandang. Tiba-tiba, aku melepaskan pegangan. Aku berbalik. Aku ingin menimang anakku dan bertemu mas Rizal. Ia pasti sedih bila kutinggal. Dan nanti, mereka bersama siapa bila aku pergi?

“Kamu mau ke mana?”

“Aku ingin menimang anakku”

“Anakmu?”

“Iya, aku juga ingin bersama suamiku”

“Kamu! Siapa yang kamu pilih? Tuhanmu, atau suami dan anakmu?”

Pertanyaan yang sulit, “Tuhanku!”

Mereka membawaku terbang kembali. Tinggi dan semakin tinggi. Aku sempat menengok, kulihat mas Rizal mengguncang-guncang tubuhku sambil menggendong anak kami. Dan aku juga melihat bik Nipah di samping mas Rizal. Orang-orang yang aku cintai. Tetapi, aku lebih mencintai Tuhanku. Aku lebih merindukan-Nya. Allah, jagalah selalu suami dan anakku, serta orang-orang yang mencintaiku. Sesungguhnya, Engkau adalah Penjaga Yang Paling Baik.

Sementara itu, di bawah sana, Rizal terus mengguncang-guncang tubuh Anisa. “Sayang, bangun! Lihatlah! Anak kita tampan sekali!”

“Bapak!”, ucap bik Nipah lirih.

Rizal memberikan anaknya ke bik Nipah. Dan ia langsung memeluk tubuh Anisa. “Sayang, jangan diam saja?” ujar Rizal dengan air mata berlinang.

“Bapak, biarkan ibu pergi dengan tenang!”, bik Nipah menyentuh bahu Rizal. Tetapi, Rizal seperti tidak mendengar. Ia memeluk tubuh Anisa erat. Seakan, tak ingin berpisah. Sebagian jiwanya hilang. Separuh raganya melayang. Dan meninggalkan separuhnya lagi merana. Rizal terus tersedu. Tiba-tiba, ada bisikan di telinganya. “Bila istrimu diberi pilihan, siapa yang akan ia pilih? Tuhannya atau kamu dan anakmu?” Rizal tersentak, ia sadar, Anisa bukan miliknya. Ia milik Penciptanya. Perlahan, Rizal membaringkan tubuh Anisa.

“Bapak, Ibu, permisi, kami akan membersihkan tubuh pasien”, dua orang perawat memasuki ruangan.

Tanpa berkata, Rizal dan bik Nipah berjalan keluar. Rizal mengambil anaknya dari gendongan bik Nipah. “Bik, bantu saya membesarkan anak ini ya!” Rizal mencium anaknya. Air matanya menetes. Ia merindukan Anisa. Tak kan ada lagi perempuan yang bermanja di pelukannya. Perempuan tangguh, tapi rapuh. Anisa. Cintanya pada Anisa tak tergantikan. Selamanya.

** Tamat**

Perpustakaan FK-UGM, Yogyakarta, 11 Desember 2008.